Omed-omedan, Tradisi Unik 'Berciuman' Massal Usai Nyepi Berakhir

Travel
Binsar Marulitua
05 Mar 2019   11:45 WIB

Komentar
Omed-omedan, Tradisi Unik 'Berciuman' Massal Usai Nyepi Berakhir

Bali (Foto : Pixabay)

Trubus.id -- Atraksi dan pertunjukan budaya di Bali memang selalu menjadi "magnet" wisatawan. Salah satu  ritual unik dan selalu membuat penasaran adalah event  "Omed-omedan" yang akan dilaksanakan pada  Jumat 8 Maret 2018. Apa yang membuat atraksi in berbeda pada atraksi wisata umumnya? 

Dalam bahasa Bali, Omed-omedan berarti saling menarik dan berpelukan. Namun seiring waktu tradisi ini telah berubah menjadi saling berciuman antara laki-laki dan perempuan.

Tradisi turun temurun yang dilakukan oleh Banjar atau kelompok warga Kaja, Desa Adat Sesetan, Denpasar Selatan, Bali adalah rangakaian event penutup hari raya Nyepi tahun baru Saka 1941. 

Omed-Omedan melibatkan pemuda dan pemudi  dengan batas minimal 17 tahun hingga 30 tahun atau sudah menginjak dewasa dan belum menikah. Tradisi ini digelar satu hari setelah Nyepi dengan peserta pemuda dan pemudi atau lebih dikenal denga Sekaa Teruna Teruni. 

"Tradisi omed-omedan, memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah penghormatan terhadap leluhur, memupuk rasa kesetiakawanan antar pemuda banjar. Sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, membangun solidaritas dan persatuan," kata Kepala Dinas Pariwisata, Anak Agung Juniarta Putra  ketika dihubungi Trubus.id, Selasa (5/3). 

Dalam tradisi ini, puluhan muda-mudi Banjar Kaja dibagi 2 kelompok yakni pria dan wanita. Kedua kelompok membuat barisan memanjang dan saling berhadapan. Kelompok pria dan wanita menyiapkan wakilnya 1 orang yang akan diarak ke depan untuk saling berciuman. Tapi kalau dimaknai secara ritual adat ini bermaksud untuk keakraban saja, menjaga kerukunan warga, dan saling kasih sayang. 

"Kemeriahan semakin terasa saat muda-mudi bertabrakan, kemudian saat saling berangkulan itu mereka disiram dengan air. Acara adat ini dilakukan sebagai bentuk kegembiraan, rasa syukur, sekaligus memupuk kebersamaan dan kekeluargaan,"tambahnya. 

Sebelum memulai acara, peserta melakukan persembahyangan bersama di pura, dipercikkan air suci, dan memohon keselamatan agar pelaksanaan acara nantinya berjalan dengan baik. Jika para "tetua" atau orang yang dituakan di Banjar tersebut memberi aba-aba mulai, barisan kedua kelompok maju ke depan dan wakil pria dan wanita dari kedua kelompok berciuman di hadapan ratusan warga dan wisatawan yang hadir menyaksikan tradisi unik ini. Untuk mendinginkan suasana, kedua muda-mudi yang berciuman ini diguyur dengan air oleh para tetua Banjar.

Saat acara dimulai kelompok pemuda-pemudi pun berlarian melintasi lokasi acara. Air pun diluncurkan untuk membasahi para peserta. Anggota pria dan wanita dipilih secara acak dan jika dipilih meraka harus bersedia dan mereka tidak bisa memilih sendiri pasangannya.  Jika si perempuan tidak suka dengan laki-laki tersebut biasanya akan berusaha menghindar dan hanya berpelukan saja.

Tapi jangan pernah berfikir semudah itu untuk bisa mendaratkan ciuman anda pada sang gadis, karena dalam acara itu selain tarik menarik juga ada acara siram-siraman, sekali kesempatan dan gagal, maka anda akan di siram beramai-ramai.

 "Kadang-kadang sulit untuk melepaskan mereka karena mungkin saja kedua belah pihak saling menyukai atau menikmatinya," jelasnya.  

  1


500 Karakter

Artikel Terkait

Serunya Menikmati Perjalanan Menuju Danau Kelimutu

Travel   15 Jan 2020 - 19:34 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: