IPB University Tanggapi Isu Kedaulatan Pangan

Peristiwa
Astri Sofyanti
19 Feb 2021   11:49 WIB

Komentar
IPB University Tanggapi Isu Kedaulatan Pangan

Rektor IPB University, Prof Arif Satria menyebutkan bahwa Indonesia masih mengalami permasalahan besar dari segi Global Food Security Index dan angka kelaparan yang masih jauh berada di bawah negara-negara tetangga. (Foto : Dok. Humas Biro Komunikasi IPB)

Trubus.id -- Pada masa pandemi Covid-19, isu kedaulatan pangan serta pertanian berkelanjutan menjadi perbincangan utama dunia, tak terkecuali Indonesia. Sektor pertanian menjadi salah satu harapan agar perekonomian Indonesia tak semakin terguncang.

Rektor IPB University, Prof Arif Satria menyebutkan bahwa Indonesia masih mengalami permasalahan besar dari segi Global Food Security Index dan angka kelaparan yang masih jauh berada di bawah negara-negara tetangga. Bahkan, bila dibandingkan dengan Ethiopia, Indonesia masih tertinggal, sehingga harus segera disikapi. Indonesia juga masih menjadi negara kedua di dunia sebagai kontributor food loss dan food waste, baik yang berasal dari sisa produksi maupun konsumsi.

Isu kedaulatan pangan tersebut seharusnya dapat diatasi. Terlebih lagi bila melihat kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional cukup tinggi. Bahkan di masa pandemi, pangsanya naik menjadi 15,01 persen di tahun 2020, yang tahun sebelumnya hanya 12,90 persen.

“Hal tersebut menjadikan sektor pertanian satu-satunya sektor yang masih tumbuh positif di masa pandemi. Kegiatan ekspor produk pertanian pun turut mengalami kenaikan menjadi 17,77 persen. Ini menjadi kesempatan Indonesia untuk memperkuat komitmen dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan,” kata Arif Satria dalam diskusi Publik yang digelar oleh INDEF (The Institute for Development of Economics and Finance) dengan tema “Daya Tahan Sektor Pertanian: Realita atau Fatamorgana?”.

Hal lain yang perlu diamati yakni walaupun produktivitas pertanian, terutama dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, tergolong cukup baik, masih terdapat beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut misalnya dari sisi biaya produksi yang tidak efisien. Faktor sumber daya manusia dan teknologi juga menjadi tantangan lainnya.

Maka dari itu perlu ada rekomendasi pertanian di masa depan. Prof Arif Satria menyebutkan beberapa rekomendasi yang penting diterapkan bagi pertanian agar semakin unggul. Yakni dari sisi akurasi data, peningkatan produktivitas dan mutu, perluasan dan optimasi lahan sawah, implementasi korporasi pertanian, dukungan kebijakan fiskal dan koordinasi secara teknis dengan kementrian lainnya, serta peningkatan daya saing produk pertanian.

“Menurut saya hal yang sangat krusial dalam jangka pendek ini memang terkait masalah logistik. Harus segera diperbaiki agar hulu dan hilir bisa terjembatani dengan baik. Kita tahu bahwa pada 2020 lalu meskipun pandemi, pertanian masih tumbuh positif. Oleh karena itu kita harus menjaga desa agar tetap bergairah serta semangat-semangat petani harus dijaga agar tetap berproduksi dan didampingi sehingga produktivitas ini semakin terwujud,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan pertanian 4.0 adalah alternatif yang dapat didorong agar semakin terwujudnya efisiensi dan efektivitas. IPB University sendiri telah menciptakan beberapa inovasi yang targetnya untuk memudahkan produktivitas petani. Misalnya dengan diluncurkannya Smart Precision Farming untuk sawit melalui teknologi terbarukan dan satelit sehingga dapat merekomendasikan pemupukan secara efisien.

Selain itu terdapat teknologi platform terbaru bernama WebGis Ecosystem yang berguna untuk memonitor konversi lahan secara real-time. Teknologi yang dibuat menggunakan machine learning tersebut telah diluncurkan sebulan yang lalu dan amat berguna di kala mewujudkan ketahanan pangan.

Inovasi lainnya yakni SmartSeeds, Fire Risk System (FRS), Apartemen Kepiting 4.0, hingga penciptaan benih unggul yang tahan perubahan lingkungan.

Di antara 57 varietas unggul yang telah diciptakan IPB University, padi jenis IPB 3S dan IPB 4S amat direkomendasikan untuk dihilirisasi karena produktivitasnya cukup tinggi. Yakni di angka 11 ton per hektar.

“Dengan banyaknya teknologi yang dikembangkan institusi pendidikan, diperlukan juga business matching antara institusi pendidikan dan pasar. Karena pada dasarnya, teknologi-teknologi tersebut diciptakan agar berguna tak hanya bagi petani, industri dan kementerian namun juga demi kemajuan pertanian Indonesia,” tutupnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Tiga Menteri Panen Perdana Padi di Gresik

Peristiwa   12 Mar 2021 - 18:55 WIB
Bagikan: