Begini Analisis Pakar Ekonomi Soal Gejolak Harga Daging Sapi

Peristiwa
Astri Sofyanti
26 Jan 2021   13:00 WIB

Komentar
Begini Analisis Pakar Ekonomi Soal Gejolak Harga Daging Sapi

Pedagang daging sapi di pasar tradisional. (Foto : Trubusid/Astri)

Trubus.id -- Pakar Ekonomi IPB University, Dr Ujang Sehabudin mengungkapkan, naiknya harga daging sapi dalam beberapa hari terakhir tidak terlepas dari supply and demand serta perilaku konsumsi daging di masyarakat. Dari sisi supply, pasokan daging berasal dari produksi domestik (sapi lokal), impor daging beku, dan impor sapi bakalan. Selama ini impor sapi bakalan berasal dari Australia sekitar 400 ribu ekor per tahun. Akibat Pandemi Covid-19, impor tersebut mengalami hambatan sehingga pasokan sapi bakalan untuk penggemukan berkurang.

“Indikasi melambungnya harga daging sapi telah terlihat beberapa bulan terakhir. Harga daging sapi segar di pasar tradisional pada akhir tahun 2020 berkisar Rp110 sampai Rp115 ribu per kilogram. Harga ini terus meningkat menjadi 120 ribu per kilogram, kemudian meningkat lagi menjadi Rp130 sampai Rp135 ribu per kilogram dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan harga ini mendorong pedagang daging mogok berjualan,” jelas Dosen dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB University dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksi Trubus.id, Selasa (26/1/2021).

Sementara, dari segi permintaan, perilaku konsumsi masyarakat  lebih menyukai daging sapi segar dibandingkan daging sapi beku. “Permintaan daging sapi segar yang kontinu adalah untuk bakso yang ketersediaannya harus selalu ada setiap hari, seperti halnya kedelai untuk pengrajin tempe dan tahu, ujarnya.

Impor daging beku dan sapi bakalan lebih mendominasi supply daging sapi domestik dibandingkan daging sapi lokal. Hal ini menyebabkan ketergantung pada impor tak bisa dihindarkan.

“Meningkatnya harga daging segar antara lain karena ketergantungan terhadap impor bakalan sebagai sumber utama pasokan daging segar,” ucapnya.

Untuk diketahui, bahwa sapi bakalan impor harus digemukkan terlebih dahulu sekitar 3-4 bulan sebelum dipotong dengan tujuan meningkatkan bobot sapi melalui pertambahan bobot badan harian (PBBH). Penggemukan ini juga bertujuan meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia.

Kenaikan harga daging sapi tersebut, lanjut Ujang, menyebabkan sebagian konsumen rumah tangga beralih ke daging sapi beku walaupun dari segi preferensi kurang disukai. Sebagian masyarakat juga beralih mengonsumsi daging ayam. Namun untuk bahan baku bakso tetap memerlukan daging sapi segar. Hal ini semakin membebani pedagang bakso yang umumnya merupakan usaha mikro, karena meningkatnya biaya produksi.

“Di lain pihak, pedagang bakso sulit meningkatkan harga jual karena bakso identik dengan makanan yang relatif murah dan digemari hampir semua kalangan masyarakat. Kalau harga bakso naik dikhawatirkan akan menurunkan pendapatan mereka,” tutur Ujang.

Untuk mengatasi gejolak harga daging, Ujang menyarankan untuk mengubah mindset masyarakat bahwa pemenuhan kebutuhan protein hewani tidak harus berasal dari daging sapi. “Bisa berasal dari ternak lokal lainnya terutama ikan yang melimpah,” ungkapnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah mengenai swasembada daging sapi perlu ditinjau ulang bahkan kalau perlu diubah menjadi swasembada protein. Pengembangan sapi lokal terutama di wilayah Timur Indonesia dengan sistem ekstensif karena masih tersedia lahan yg cukup luas.

“Beberapa daerah seperti Poso, Morowali Sumbawa, Bima dan Atambua memiliki lahan savana yang cocok untuk pengembangan sapi potong secara ekstensif,” ujarnya.

Berdasarkan pengalamannya bersama Fakultas Peternakan IPB University dalam mengembangkan peternakan sapi di Morowali beberapa tahun lalu, di sana tersedia lahan pengembangan sapi yang luas. Hampir setiap desa memiliki lahan penggembalaan komunal berkisar 50 sampai 100 hektar. Lahan ini digunakan masyarakat untuk memelihara sapi secara bersama sepanjang waktu.

Oleh karena itu dirinya menyarankan, perlu mendorong pengembangan unggas lokal dan ternak lokal seperti domba dan kambing sebagai sumber protein hewani. Pasalnya, komoditas tersebut saat ini kurang mendapatkan perhatian terutama fasilitasi pembiayaan dan program pemerintah karena lebih fokus mengejar swasembada daging sapi yang sampai saat ini tidak pernah terwujud.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Mentan Perkuat Regenerasi Petani Lewat Smartfarming

Peristiwa   14 Juni 2021 - 10:12 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: