Tiga Kunci dalam Mendorong Pertanian Inklusif di Era Industri 4.0

Peristiwa
Astri Sofyanti
29 Des 2020   09:00 WIB

Komentar
Tiga Kunci dalam Mendorong Pertanian Inklusif di Era Industri 4.0

Ilustrasi - Petani tengah menggiling gabah. (Foto : Trubus.id)

Trubus.id -- Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah banyak mengubah berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali industri pertanian. Kini, dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0, ditandai dengan penggunaan mesin-mesin informasi yang terintegrasi dengan jaringan internet. Dengan tantangan tersebut, petani tak bisa hanya mengandalkan traditional farming, namun juga harus dapat mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dan penerapan pertanian presisi. Tujuannya agar tercapai produktivitas pertanian yang efisien hingga aktivitas pemasaran digital berbasis platform.

Kini semakin banyak pula lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi kawasan properti dan industri. Sehingga dibutuhkan suatu pola pikir kreatif dan inovatif untuk mengembangkan pertanian yang visioner dan integratif.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo juga menyebutkan bahwa kegiatan ini digelar sebagai konsolidasi emosional dan dalam rangka membangun konsepsi-konsepsi yang strategis secara bersama. Nantinya, hasil pertemuan akan dibumikan secara bertahap dan berkala. Ia berharap bila kegiatan ini dapat merefleksikan rencana pembangunan pertanian nasional dalam jangka panjang, baik on-farm, off-farm hingga pascapanen. Seluruh lapisan masyarakat bersama pemerintah harus turut serta dalam mewujudkan pertanian yang makin mandiri.

Rektor IPB University, Arif Satria mengatakan bahwa sektor pertanian terus tumbuh positif, bahkan selama pandemi, jika dibandingkan sektor lainnya. Momentum tersebut amat penting untuk menunjukkan bahwa sektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional dapat menjadi penyelamat ekonomi bangsa. Momentum ini juga harus dimanfaatkan untuk menunjukkan perwujudan kedaulatan pangan.

Ia menyebutkan ada tiga kunci dalam mendorong pertanian yang inklusif dengan mengakomodasi kepentingan segala kelompok. Pemerintah tidak perlu lagi mendikotomikan kelompok petani. Seharusnya seluruh tingkat kelompok harus berada dalam satu kesatuan yang disebut Indonesia Agriculture Incorporated. Istilah tersebut merupakan sebuah langkah sinergi bagi seluruh komponen dengan pemberian akses pada kelompok kecil agar dapat turut berpartisipasi dalam transformasi pertanian Indonesia. Harapannya, kemiskinan dapat teratasi dan pertumbuhan ekonomi akan lebih merata.

Langkah-langkah dalam mendorong pertanian presisi atau smart farming merupakan konsekuensi dari industri 4.0 berbasis teknologi Artificial Intelligence dan block chain. Seluruh pihak mestinya sadar bahwa semua negara di dunia gencar mendorong percepatan smart farming tersebut. Tugas seluruh masyarakat Indonesia saat ini yaitu mendorong pertanian presisi dengan smart farming dapat diimplementasikan karena tak semua kelompok pertanian telah menerapkan pertanian 4.0.

“Namun demikian, pertanian 1.0 dan 2.0 harus kita support, harus kita gendong, harus kita bantú  untuk percepatan adaptasi pemanfaatan teknologi 4.0 dalam rangka meningkatkan efisiensi, dalam rangka meningkatkan kualitas. Hingga pada akhirnya meningkatkan daya saing produk-produk pertanian Indonesia,” tuturnya.

Upaya untuk mendorong pertanian berkelanjutan juga amat penting dalam mewujudkan komitmen global bagi pertanian yang lebih ramah lingkungan.  Dimana pertanian dapat benar-benar bersifat bersahabat dalam era perubahan iklim. Sehingga nantinya pertanian Indonesia akan semakin maju. Ia menyebutkan bila PISPI juga memiliki peran penting dalam proses percepatan transformasi pertanian 4.0. Dengan jaringan dan modal sosial yang luar biasa, hal tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membantu pemerintah dan petani dalam rangka pertanian inklusif, presisi dan berkelanjutan.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: