LIPI Resmi Bergabung dalam Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Merah Putih

Peristiwa
Astri Sofyanti
03 Des 2020   09:52 WIB

Komentar
LIPI Resmi Bergabung dalam Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Merah Putih

Ilustrasi - Vaksin Covid-19. (Foto : Fresh Daily)

Trubus.id -- Indonesia melakukan berbagai langkah konkrit dalam menangani pandemi Covid-19 dan memutus rantai penyebaran virus corona. Salah satunya dengan mengembangkan vaksin yang diberi nama vaksin Merah Putih. Vaksin Merah Putih adalah vaksin Covid-19 yang menggunakan isolat virus SARS-CoV-2, yang bertransmisi di Indonesia. Pengembangan danproduksi bibit vaksin tersebut dilakukan oleh para ahli dan peneliti di beberapa lembaga riset dalam negeri.

Pengembangan vaksin merah putih oleh para ilmuwan tanah air ini tidak hanya untuk kemandirian produksi vaksin Covid-19, melainkan untuk kedaulatan nasional. Proses pembuatan vaksin ini dilakukan cepat namun tetap memperhatikan aspek keamanan dan keampuhannya.

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) yang mengembangkan vaksin Merah Putih. Beberapa institusi yang tergabung di dalamnya antara lain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Eijkman, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan perguruan tinggi lainnya. Masing-masing institusi tersebut melakukan pengembangan vaksindengan platform yang berbeda-beda yang ditargetkan untuk diproduksi tahun 2021.

Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, vaksin Merah Putih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan lokal yang relatif besar, karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak.

“Jika ingin mewujudkan kekebalan massal (herd immunity), maka dua pertiga jumlah penduduk Indonesia harus diberikan vaksin sehingga dibutuhkan kurang lebih 170 juta orang yang harus divaksinasi,” kata Bambang dalam siaran pers yang diterima Redaksi Trubus.id, Kamis (3/12/20).

Sementara itu, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menjelaskan, pengembangan vaksin membutuhkan waktu yang cukup lama karena ada pengembangan dari bibitnya.

“Tahapan awalnya, dilakukan uji pra klinis bibit vaksin dan diujicobakan ke hewan. Ada beberapa fase yang harus dilewatifase I, fase II, fase III, untuk mengetahui khasiat dan keamanannya,” ucap Handoko. Lebih lanjut Handoko mengungkapkan bahwa vaksin harus dipantau 5 sampai 10 tahun lagi, karena efek sampingnya tidak langsung muncul.

Ketua Konsorsium dan Inovasi Penanganan Covid-19 Kemenristek, Ali Ghufron, mengatakan, selain membantu penanganan Covid-19, pengembangan vaksin ini juga menunjukkan Indonesia mampu untuk mandiri dalam memproduksi vaksin.

Sejalan denganhal tersebut, dibutuhkan tim khusus untuk menangani vaksin merah putih ini. Menristek/ Kepala BRIN selaku Ketua Penanggung Jawab Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Corona Virus Disease 2019. Ketetapan tersebut Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 18 Tahun 2020. Selanjutnya diterbitkan Surat Keputusan Menristek/Kepala BRIN Nomor. 167/M/KPT/2020 Tentang Pelaksana Harian Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Corona Virus Desease 2019 (covid-19). Surat keputusan tersebut akan diserahkan kepada tim peneliti LIPI pada Kamis (03/11) di Cibinong,  bersamaan  dengan  penerahan  SK yang sama kepada Universitas Indonesia. Dengan demikian, LIPI secara resmi bargabung dalam Tim Nasional Pengembangan Vaksin Merah Putih.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Tiga Menteri Panen Perdana Padi di Gresik

Peristiwa   12 Mar 2021 - 18:55 WIB
Bagikan: