Prosesnya Berbelit-belit, Warga Terdampak Gempa di Lereng Rinjani Bangun Rika Sendiri

Peristiwa
Astri Sofyanti
23 Okt 2018   21:30 WIB

Komentar
Prosesnya Berbelit-belit, Warga Terdampak Gempa di Lereng Rinjani Bangun Rika Sendiri

Ilustrasi konstruksi rumah dari kayu (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Warga sekitar lereng Gunung Rinjani yang terdampak gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu, kini lebih selektif dalam membangun rumah. Yah, saat ini mereka lebih memilih model rumah instan kayu (Rika) daripada model rumah instan sederhana sehat (Risha).

Alasan utama banyak warga di Kaki Gunung Rinjani memilih model Rika karena trauma akibat guncangan gempa. Hal tersebut diungkapkan Lalu Kanahan, Kepala Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Baca Lainnya : Pascagempa Lombok, Terungkap Titik Longsor di 3 Jalur Pendakian Gunung Rinjani

Lalu mengungkapkan, banyak warga memilih model Rika, karena hampir semua rumah yang dibangun dengan bahan utama semen mengalami kerusakan saat gempa terjadi beberapa waktu lalu.  Sementara itu, bangunan dengan konstruksi kayu justru tidak terdampak sama sekali dengan guncangan gempa.

“Jadi bisa diasumsikan rumah kayu lebih kuat ketimbang model Risha,” ucapnya di Sembalun, Lombok Timur, NTB, Selasa (23/10).

Lebih lanjut pihaknya menyebutkan, jumlah rumah rusak di Sajang mencapai 600 rumah, dengan 193 rumah masuk pada kategori rusak berat. Lalu mengatakan, seluruh warga yang rumahnya rusak berat telah mendapatkan buku rekening BRI, dan telah membentuk 15 kelompok masyarakat (pokmas).

Ia juga mengaku sampai saat ini belum ada pencairan dan realisasi. Warga harus buat rekening baru kemudian buat suarat kuasa ke Bank untuk transfer ke rekening kontraktor.

“Jadi kita lihat prosesnya terlalu berbelit-belit. Kalau ke kontraktor kenapa ada pokmas? Jadi terkesan di tengah masyarakat ini adalah bisnis," ujarnya lagi.

Baca Lainnya : Pemerintah Mulai Bangun 'Risha, Riko dan Rika' untuk Korban Gempa Lombok

Melihat kondisi itu, puluhan warga berinisiatif membangun sendiri rumahnya menggunakan konstruksi kayu karena tak ingin berada lama-lama di tenda-tenda pengungsian.

"Banyak rumah sudah jadi 100 persen dari kayu, dananya utang karena ada yang menjanjikan kalau rusak berat nanti dapat Rp 50 juta, mereka tidak tahan karena khawatir dengan kondisi anak-anak dan orang tua," ucapnya lagi. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: