Ini Penjelasan PVMBG Penyebab Gempa Susulan di Lombok Capai 500 Kali

Peristiwa
Thomas Aquinus
14 Agu 2018   20:45 WIB

Komentar
Ini Penjelasan PVMBG Penyebab Gempa Susulan di Lombok Capai  500 Kali

Tenda pengungsi gempa Lombok di desa Kekait (Foto : Trubus.id / Thomas Aquinus Krisnaldi)

Trubus.id -- Rangkaian gempa bumi susulan yang terjadi di Lombok masih terus terjadi. Hingga kini, sudah lebih dari 500 kali gempa susulan terjadi setelah sempat tiga kali mengalami gempa berkekuatan besar, yakni 6,4 SR, 7 SR, dan 6,2 SR.

Kabid Mitigasi Gempa Bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sri Hidayati meneranglan gempa susulan merupakan hal biasa yang terjadi setelah sebelumnya terjadi gempa berkekuatan besar. Tapi, gempa susulan kekuatannya jauh lebih kecil.

"Gempa dengan magnitude cukup besar biasanya diikuti gempa susulan yang banyak," ujar Sri, Selasa (14/8).

Baca Lainnya : Jokowi Masih Akan Tinjau Lokasi Terdampak Gempa di Lombok Hari Ini

Dijelaskan soal gempa susulan yang mencapai lebih dari 500 kali dipicu oleh sesar naik. Sehingga, potensi seringnya gempa susulan terjadi akan sangat terbuka.

"Karena gempa ini dipicu sesar naik, jadi dia akan lebih banyak ininya (gempa susulannya)," ujarnya.

Menurutnya, ke depan, potensi gempa susulan pun masih memungkinkan terus terjadi. "Tapi mudah-mudahan makin kecil (magnitudonya), biasanya makin lama akan makin mengecil," tambahnya.

Gempa susulan tersebut dikatakan  merupakan proses pelepasan energi dari dalam bumi. Setelah energi yang dilepaskan habis, maka kondisinya akan kembali normal.

Baca Lainnya : 5 Arahan Presiden Jokowi Untuk Wilayah Gempa Lombok

"Misalnya dulu energinya nol (sebelum gempa), dia akan kembali lagi ke titik yang sama. Gempa-gempa susulan yang terjadi saat ini ini masih pada tahap relaksasi (sebelum benar-benar gempa susulan berhenti)," kata Sri.

Sementara itu, Kepala Bidang Geosains Badan Geologi Asep Kurnia Permana kembali mengingatkan, bahwa sampai saat ini belum ada teknologi atau ahli yang bisa memprediksi kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi.

"Karena itu yang paling penting melakukan mitigasi. Kita harus mengenali geodinamika, ini sangat penting," katanya.

Saat ini peran pemerintah daerah pun sangat penting dalam upaya mitigasi tersebut. Apalagi, sejak 2013 lalu ada peta kawasan rawan gempa. Peta itu bisa jadi acuan bagi pemerintah daerah untuk melakukan penataan ruang dan wilayah.

Baca Lainnya : Jumlah Korban Meninggal Dunia Gempa Lombok Tembus 436 Jiwa

"Kita sudah melakukan pemetaan mikrozonasi kaitannya bagaimana memetakan kaitannya dampak risiko dari (potensi) kegempaan tersebut," jelasnya.

Jika penataan dilakukan, minimal korban jiwa akan bisa diminimalisir jika suatu saat terjadi gempa. Bukan hanya di Lombok, peta itu juga memuat kerentanan terjadinya gempa di seluruh daerah di Indonesia.

"Peta ini sebaiknya jadi bahan bagi pemda untuk menyusun tata ruang sehingga potensi (hilangnya) korban jiwa bisa dikurangi," tambah Asep. [NN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: