KPPU Temukan Indikasi Kartel Terkait Mahalnya Harga Telur

Peristiwa
Syahroni
28 Juli 2018   21:00 WIB

Komentar
KPPU Temukan Indikasi Kartel Terkait Mahalnya Harga Telur

Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Medan, Ramli Simanjuntak. (Foto : Trubus.id/ Reza Perdana)

Trubus.id -- Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan adanya indikasi kartel terkait tingginya harga telur ayam yang berada di kisaran harga Rp 1.800 per butir. Hal ini berdasarkan penyelidikan yang dilakukan.

Kepala Kantor Perwakilan Daerah (KPD) KPPU Medan, Ramli Simanjuntak mengatakan, langkah awal dilakukan pihaknya mengumpulkan seluruh perusahaan yang memproduksi pangan ternak dan telur ayam di Sumatera Utara.

"Mereka kita kumpulkan di kantor kita. Kemudian kita diskusikan di mana akar masalahnya. Yang kita kumpulkan ini para produsen pangan ternak," kata Ramli, Sabtu (28/7).

Baca Lainnya : Mengejutkan, Temuan Polisi Soal Harga Telur yang Mahal di NTB

Setelah dikumpulkan, pihak KPPU menggali informasi dengan seluruh produsen pangan ternak dan produsen telur. Informasi dikumpulkan untuk mencari indikasi kartel, baik di tingkat produsen, agen, atau pedagang.

"Dari penelitian kita, sejak bulan Juli, ada kenaikan harga setelah Lebaran. Kenaikan harga telur dampak dari adanya kenaikan dolar," ucapnya.

Pada pertemuan dengan para produsen pangan ternak disebutkan ada kenaikan harga telur. Namun naiknya tidak signifikan, hanya sebesar Rp 100 dan Rp 200 per kilogram untuk pangan ternak ayam tersebut.

Dijelaskan Ramli, seluruh industri pangan ternak di Sumut 80 persen mandiri dan 20 persen mitra. Sangat kecil penyebab kenaikan harga telur dikarenakan dolar yang juga terus merangkak naik.

"Indikasinya kami lakukan penelitian. Apa ada perilaku pelaku peternak, agen-agen, atau pedagang. Kami sedang dalami," jelasnya.

Baca Lainnya : Harga Telur di Peternak dan Pedagang Terlampau Jauh, Ini Jawaban Mentan

Ramli mengimbau kepada semua pelaku usaha telur untuk tidak main-main dengan harga. Bila ditemukan ada indikasi kartel, tentunya akan dilakukan tindakan tegas. Sebab telur menjadi kebutuhan utama dan diperlukan masyarakat.

"Kita imbau jangan melakukan kesepakatan harga, atau kartel saling-saling menaikan harga. Saling berkoordinasi untuk kenaikan harga bagi-bagi pasar," imbaunya.

Ramli menyebut, pemerintah harus melakukan langkah untuk menstabilkan harga telur dan juga harga daging ayam saat ini. Jika tidak dilakukan, maka harga kedua komoditi tersebut akan terus meningkat di kemudian hari.

"Kita rekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan operasi pasar. Tujuannya untuk kestabilan harga telur. Segera dilakukan walau terlambat," tandasnya. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Mentan Perkuat Regenerasi Petani Lewat Smartfarming

Peristiwa   14 Juni 2021 - 10:12 WIB
Bagikan:          
Bagikan: